Hidangan yang lahir dari kebun, dari tangan petani, dari kesederhanaan yang jadi kenikmatan. Di dalamnya, sayur-mayur direbus dengan sabar: kangkung yang lembut, lembayung yang bersahaja, daun ubi jalar dan pepaya yang wangi muda, daun singkong, tauge, jantung pisang, pare, hingga irisan timun yang jernih. Sekilas, ia mirip rujak pecel dari timur Jawa, namun setiap suapan membisikkan bahwa ini adalah kisah lain. Yang menjadi pembeda adalah sambalnya—sambel teplak , bukan dari kacang yang akrab di lidah, melainkan dari singkong yang direbus atau dikukus, lalu diuleńi hingga halus, sehalus ingatan pada masa kecil. Singkong itu kemudian dipertemukan dengan ulekan cabe merah, sedikit garam, terasi, dan gula merah— pertemuan sederhana yang melahirkan keharuman pedas manis yang memikat. Semua diaduk, dicairkan dengan air matang hingga mencapai kekentalan yang mengalir lembut namun tetap bertenaga. Penyajiannya pun penuh tradisi: daun pisang dibentuk pincuk atau takir, seolah member...